,

#LiburanHijau: Langkah Kecil untuk Perubahan Besar

“Gue kasihan sama harimau dan gajah di Sumatra, apalagi sama orangutan di Kalimantan.”
“Gue pengen bantu melindungi badak Jawa, tapi nggak tahu harus mulai darimana dan harus ngapain…”

Familiar dengan dua pernyataan di atas?Pernahkah, kurang lebih, salah satu dari mereka terlintas di pikiranmu?

Paul Nicklen, salah satu fotografer spesialis satwa liar di kawasan kutub bumi, pernah berkata dalam wawancaranya, “We need to start thinking about the environment the same way we think about money, or the next car you buy, or the next lunch you eat, etc.Just think about the planet that exists beneath your feet, and your kid’s feet, in every decision you make,”. Terkait dengan opini pria yang juga adalah seorang ahli Biologi itu, masih banyak orang yang sulit menerima kenyataan bahwa sekecil apapun kontribusi mereka kepada dunia, perubahan akan tetap terjadi. Sesuatu yang besar dan memberikan efek jangka panjang tentunya akan mengikuti kontribusi dalam skala yang sama. Bagi kebanyakan orang, hal itu merupakan bukti bahwa keseimbangan adalah penting dalam hidup.Setuju?

Kamu tidak sendirian. Saya juga pernah hidup di masa-masa egois, dimana tidak pernah terpikirkan oleh saya bahwaberuang kutub di Alaska adalah salah satu satwa yang paling terancam oleh dampak perubahan iklim. Saat itu pun saya masih tidak peduli kalaudeforestasi di Indonesia semakin merajalela.Saya bukan lahir dari keluarga aktivis, bukan juga berasal dari lingkungan sosial yang berkontribusi banyak terhadap pemerintahan dinegara sendiri, atau bahkan keadaan lingkungan di sekitar. Adalah hal yang cukup wajar jika saya kurang mendapatkan motivasi untuk baik menginisiasi maupun melakukan perubahan yang positif, bahkan dari langkah terkecil.

Syukurlah, di akhir tahun 2011, datang waktu dimana program-program di siaran televisi internasional dan video-video dokumenter tentang alam dan satwa liar bukan hanya berhasil membuat saya terkagum-kagum, melainkan juga membuat saya geram. Seketika saya ingin melakukan sesuatu,apapun, agarparaberuang,gajah,dan hiudi video-videoitu tidak lagimati sia-sia untuk kepentingan kesehatan tubuh, terutama bagi pria; agar paraorangutan tidak lagi harus berebut tempat tinggal dengan perusahaan perkebunan;agar paraburung laut tidak lagi hidup menderita hanya karena menelan sampah balon helium yang dibiarkan terbang,dan lain-lain. Ingin sekali rasanya melakukan sesuatu agar semua orang menyadari bahwa kita, manusia, tidak hidup sendiri di dunia. Kita berbagi tempat tinggal dengan harimau dan gajah di Sumatra, orangutan di Kalimantan, hiu paus di Teluk Cendrawasih, komodo di Pulau Komodo, serta bahkan paus di Laut Sawu dan lumba-lumba di Kepulauan Seribu. Itu baru keadaan di Indonesia. Tentunya di bagian dunia yang lain bukan mustahil jika persoalan ‘berbagi teritori’ tersebut menjadi lebih kompleks.

Perubahan itu Pun Dimulai

Masa libur tengah tahun, alias liburan semester, di tahun 2012 adalah awal dari perubahan yang sesungguhnya di dalam diri saya. Dengan dibekali motivasi yang datang hanya dari visualisasi alam liar di televisi, saya memberanikan diri mendaftar sebagai peserta magang di salah satu NGO (Non-Governmental Organizationatau lembaga non-pemerintah) yang, menurut saya, memiliki rekam jejak upaya konservasi yang baik. Tidak tanggung-tanggung, setelah diterima, saya wajib untuk menghabiskan sebagian besar masa magangdi Kalimantan Barat. Sungguh sebuah pengalaman baru dan destinasi yang sangat asing bagi seorang warga negara Republik Indonesia,dengansebagian besar masa hidup yang dihabiskan hanya di Pulau Jawa, seperti saya ini.

Di Kalimantan Barat saya banyak belajar tentang upaya konservasi satwa liar yang dilakukan bukan hanya oleh NGO tempat saya magang, melainkan juga para warga lokal. Beberapa lembaga ada yang melakukan dengan pendekatan dari sudut pandang manusia, sudut pandang satwa yang dilindungi itu sendiri, atau bahkan secara holistik. Sebagai mahasiswa Biologi, tentu bukan hal yang mengherankan jika saya lebih tertarik untuk melakukan konservasi dari sudut pandang satwa liar yang terkait.

Selama masa magang di Kalimantan Barat tersebut, saya juga ‘berkenalan’ dengan salah satu spesies yang kemudian menjadi favorit saya. Orang Indonesia mengenalnya dengan sebutan lumba-lumba Irrawaddy atau pesut (Orcaella brevirostris). Ia disebutpa khaataupla lomadi Laos,hooa bahtdi Thailand, danlabaidi Myanmar.

Perkenalan saya dengan pesut di Kalimantan Barat berlangsung sangat singkat, yaitu hanya sebuah perjumpaan selama beberapa detik. Alhasil, saya pun tidak sempat mengambil fotonya. Saat itu saya dan teman-teman yang ikut dalam sebuah perahu sedang berada di perairan di Kabupaten Kubu Raya, salah satu area perairan Kalimantan Barat, dimanapernah ditemukannya pesut yang mati.

Pada faktanya, pesut tidak hanya dapat ditemukan di perairan Kalimantan Barat. Bagi para ahli cetologidi seluruh dunia, nama Sungai Mahakam di Kalimantan Timur jauh lebih terkenal dan sering disandingkan dengan sungai-sungai besar, seperti Amazon, Mekong, dan Yangtze. Sungai Mahakam tidak lain adalah habitat salah satu dari jenis pesut air tawar yang sesungguhnya di dunia. Dinobatkan sebagai salah satu mamalia eksotik dengan predikatCritically Endangeredatau sangat terancam punahdari International Union for Conservation of Nature (IUCN), spesies tersebut umum dikenal di Indonesia dengan nama pesut Mahakam.

Di perairan Kalimantan Timur itu sendiri terdapat dua jenis pesut.Pesut teluk bisa dijumpai di Delta Mahakam atau Teluk Balikpapan, sedangkan pesut sungai atau pesut Mahakam hanya bisa dijumpai di Sungai Mahakam. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Konservasi RASI, diketahui bahwapada beberapa tahun terakhir, pesut Mahakam sering ditemukan di bagian Sungai Mahakam yang melewati Kutai Kartanegara. Muncul dugaan bahwa kerusakan alam yang terjadi di bagian hulu sungai mendesak pesut untuk bermigrasi ke bagian sungai yang terletak di kabupaten dengan ibu kota Tenggarong itu. Hal tersebut dapat dipandang dari dua sisi; sisi pertama menyiratkan bahwa pesut Mahakam menambah daftar keunikan satwa liar di Indonesia, sehingga Indonesia patut melindunginya sebagai ungkapan rasa bangga. Sementara itu, pandangan dari sisi kedua dapat menjadi dasar bagi para penggiat konservasi satwa liar untuk mulai waspada dan bertindak untuk mencegah kepunahan pesut Mahakam.

Fakta lain bahwa Kalimantan Timur merupakan daerah dengan jumlah tambang batubara dan perkebunan kelapa sawit yang tidak sedikit tidak dapat dipandang sebelah mata. Hal yang perlu diwaspadai adalah fakta bahwa pesut Mahakam dan ponton batubara ‘berbagi’ jalur pergerakan dan bagian sungai yang sama setiap harinya. Selain itu, adalah sesuatu yang patut dicurigaiketika seiring dengan semakin banyaknya perkebunan kelapa sawit di suatu daerah, semakin sedikit pula pesut Mahakam yang ditemukan di perairan di sekitar daerah itu.

Saya mendapatkan pengetahuan tentang koeksistensi manusia dan pesut di Sungai Mahakam tidak lama setelah saya pulang dari Kalimantan Barat. Tak lama sebelum kepergian saya ke Kalimantan Timur itu, saya utarakan ketertarikan saya untuk mempelajari spesies tersebut pada dosen pembimbing mata kuliah Tugas Akhir (TA). Syukurlah, beliau menyetujui rencana saya untuk menjadikan pesut sebagai objek penelitian. Beliau hanya berpesan bahwa alangkah baiknya jika sebagai mahasiswa Biologi, saya tetap berpegang pada prinsip-prinsip sains. “Utarakan pendapat dengan dasar penelitian dan sumber yang pasti, bukan dari asumsi semata,” ujarnya.

Sejak pulang dari Kalimantan Timur, tepatnya pada pertengahan September 2012, saya merasa bahwa waktu bergulir kian cepatnya. Tiba-tiba saja saya sudah hidup di tahun 2013. Bertumpuk-tumpuk artikel penelitian orang lain sudah saya baca dan puluhan minggu pun sudah saya habiskan demi memenuhi niat saya untuk kembali ke Sungai Mahakam. Kali ini saya kesana bukan hanya untuk eksplorasi dan memperkaya pengalaman, melainkan juga atas kepentingan penelitian sebagai mahasiswa tingkat akhir.Kapan?Tentunya, lagi-lagi, saat liburan semester.

Liburan Semester yang (Lagi-lagi) Berkesan

Banyak orang yang tidak percaya bahwa saya memanfaatkan liburan untuk penelitian. Sayangnya, mereka sudah terburu-buru memberikan komentar. Mereka tidak tahu bahwa masa-masa penelitian saya hanya berlangsung selama kurang lebih satu bulan dari empat bulan masa liburan semester yang sesungguhnya. Pengalaman-pengalaman tidak ternilai yang saya peroleh selama penelitian pun membuat saya merasa seperti sedang berlibur.

Kegiatan yang saya lakukan di lapangan tidak hanya sekedar pengambilan data atau observasi pesut Mahakam. Selain menyusuri beberapa anak Sungai Mahakam yang menyimpan keragaman satwa liar yang cukup tinggi, saya juga menyempatkan diri untuk berinteraksi dengan para warga lokal di beberapa desa di pinggir Sungai Mahakam. Bukan hanya data-data untuk penelitian yang saya peroleh disana, melainkan juga pengetahuan tentang budaya suku Kutai dan suku Banjar. Percayalah, peribahasa “sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui” benar-benar memberikan kebahagiaan tiada tara jika diaplikasikan ke dalam kehidupan.

Memulai “Liburan Hijau” dari Hal-hal Kecil

Bagi saya, liburan adalah kata benda yang sangat personal. Setiap orang bisa memiliki arti yang berbeda dari kata itu. Definisi liburan bagi saya sendiri tidak jauh berbeda dari definisi di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),kok.

Definisi kata ‘liburan’ di KBBI adalahmasa libur atau vakansi, sedangkan definisi kata ‘libur’ adalah bebas dari bekerja atau masuk sekolah.Nah, selama waktu yang saya habiskan itu tidak mewajibkan saya untuk masuk sekolah, saya akan menyebutnya liburan. Sederhana, bukan?

Prinsip kesederhanaan tidak akan jauh berbeda hasilnya jika diaplikasikan pada definisi liburan yang ramah lingkungan. Mongabay Indonesia menyebutnya “Liburan Hijau”. Bagi saya, “Liburan Hijau” tidak harus identik dengan langkah-langkah besar.

Mulailah dari hal-hal kecil.Jadikan masa libur sebagai masa latihan dalam menerapkan kebiasaan-kebiasaan positif yang sederhana, seperti:

  • membuang sampah pada tempatnya,
  • memisahkan sampah yang tidak dapat dan mudah terurai,
  • meningkatkan kepedulian akan kebersihan, dimulai darimembersihkan kamar tidur sendiri,
  • mematikan kran air/lampu jika sedang tidak dipakai,
  • sedapat mungkinmengendarai transportasi umum ke berbagai tujuan,
  • menggunakan kedua sisi dari setiap lembar kertaspada berbagai kesempatan,
  • menjadi relawan kegiatan-kegiatan berbasis lingkungan,
  • menyumbangkan majalah-majalah bekas ke taman bacaan, dan lain-lain.

Tahukah kamu, bahkan status Facebook atau Twitter pun dapat memberikan dampak,lho! Kamu bisa memanfaatkan media sosial tersebut sebagai media berkampanye tentang isu lingkungan. Bersyukurlah karena saat ini saya dan kamu sudah hidup di era demokrasi.

Saya percaya bahwa kesuksesan selalu berawal dari hal-hal yang (dianggap) kecil. Jika dikerjakan secara konsisten dan penuh komitmen, mereka akan membawamu kepada hasil yang kemungkinan besar memuaskan. Sambil ‘berteman’ dengan komitmen dan konsistensi, kamu tak akan sadar waktu telah bergulir sedemikan cepatnya. Langkah-langkah kecil yang dulu hanya dikerjakan untuk meningkatkan kepedulian orang-orang di sekitar pun kini telah sukses menjadi sebuah fondasi yang kokoh. Boleh jadi kepedulian itu telah berkembang menjadi ketertarikan dan keinginan untuk melakukan sesuatu terkait isu yang didukung, baik yang datang dari dirimu sendiri maupun dari teman-temanmu. Jangan heran jika tiba-tiba muncul inspirasi untuk beraksi, walaupun masih dimulai dari skala kecil, seperti melaluipollingatau petisi.

Banyak orang yang tidak tahu bahwa banyak ahli tumbuhan dulunya adalah anak-anak kecil yang gemar mengamati tanaman-tanaman liar di pekarangan rumah masing-masing. Bahkan tidak jarang karir cemerlang para penggiat konservasi satwa liar diawali hanya dengan ekspresi kekaguman pada fitur fisik atau cara bertahan hidup satwa terkait. Hal sederhana tersebut kemudian menjadi salah satu roda penggerak upaya-upaya yang mereka lakukan agar populasi satwa kesukaan tersebut terus lestari di muka bumi ini. Perlu diingat bahwasekecil apapun hal yang dilakukan akan memberikan perubahan yang,semoga saja,positif.

Yuksama-sama menuai kesuksesan dari hal-hal kecil!

——————————————————————–

Artikel dan Foto: Sheyka Nugrahani

Referensi:

BBC. 2013. “Kenya seizes ivory ‘going from Uganda to Malaysia'” (Online), BBC News. http://www.bbc.co.uk/news/world-africa-23168558.Diunduh pada tanggal 30 Juli 2013

Butler, R. 2013. “Memerangi Deforestasi dan Korupsi di Indonesia” (Online), Mongabay Indonesia. http://www.mongabay.co.id/2013/05/11/memerangi-deforestasi-dan-korupsi-di-indonesia/. Diunduh pada tanggal 30 Juli 2013

Cooper, J. 2013. “(Not) letting your party balloon go. It’s not just ingested plastic that is killing albatrosses, petrels and shearwaters” (Online), ACAP. http://www.acap.aq/index.php/news/latest-news/1441-not-letting-your-party-balloon-go-it-s-not-just-ingested-plastic-that-is-killing-albatrosses-petrels-and-shearwaters.Diunduh pada tanggal 30 Juli 2013

Fachrizal, A. 2012. “Seekor Pesut Ditemukan Mati di Perairan Kalimantan Barat” (Online), Mongabay Indonesia. http://www.mongabay.co.id/2012/10/16/seekor-pesut-ditemukan-mati-di-perairan-kalimantan-barat/.Diunduh pada tanggal 30 Juli 2013

Fachrizal, A. dan P. Aseanty. 2013. “Sindikat Perdagangan Ilegal Terbongkar di Kalbar, Ratusan Organ Satwa Dilindungi Disita” (Online), Mongabay Indonesia. http://www.mongabay.co.id/2013/04/26/sindikat-perdagangan-ilegal-terbongkar-di-kalbar-ratusan-organ-satwa-dilindungi-disita/. Diunduh pada tanggal 30 Juli 2013

Hendar. 2012. “Sawit Telan Lahan Rawa, Pesut Mahakam Hengkang Kekurangan Pangan” (Online), Mongabay Indonesia. http://www.mongabay.co.id/2012/11/04/sawit-telan-lahan-rawa-pesut-mahakam-hengkang-kekurangan-pangan/.Diunduh pada tanggal 30 Juli 2013

Hendar. 2013. “Pesut Mahakam, Semakin Menyusut Akibat Hilangnya Sumber Pangan” (Online), Mongabay Indonesia. http://www.mongabay.co.id/2013/06/12/pesut-mahakam-semakin-menyusut-akibat-hilangnya-sumber-pangan/.Diunduh pada tanggal 30 Juli 2013

Hendar. 2013. “Kalimantan Timur: Lumbung Energi Tanpa Daya Halangi Ekspansi Industri” (Online), Mongabay Indonesia. http://www.mongabay.co.id/2013/05/20/kalimantan-timur-lumbung-energi-tanpa-daya-halangi-ekspansi-industri/.Diunduh pada tanggal 30 Juli 2013

Hendar. 2013. “Teluk Balikpapan: Demi Kawasan Industri, RTRW Singkirkan Keragaman Hayati Mangrove” (Online), Mongabay Indonesia. http://www.mongabay.co.id/2013/04/24/teluk-balikpapan-demi-kawasan-industri-rtrw-singkirkan-keragaman-hayati-mangrove/.Diunduh pada tanggal 30 Juli 2013

Shogren, E. 2006. “Warming May Put Polar Bear on Threatened List” (Online), NPR. http://www.npr.org/templates/story/story.php?storyId=6687070. Diunduh pada tanggal 30 Juli 2013

Wihardandi, A. 2013. “Foto: Lima Orangutan Tersudut Akibat Penebangan Perusahaan Kelapa Sawit” (Online), Mongabay Indonesia. http://www.mongabay.co.id/2013/07/23/foto-lima-orangutan-tersudut-akibat-penebangan-perusahaan-kelapa-sawit/. Diunduh pada tanggal 30 Juli 2013

Wihardandi, A. 2013. “Penelitian: Hiu Lebih Bermanfaat di Laut Lepas Ketimbang di Atas Piring” (Online), Mongabay Indonesia. http://www.mongabay.co.id/2013/06/01/penelitian-hiu-lebih-bermanfaat-di-laut-lepas-ketimbang-di-atas-piring/. Diunduh pada tanggal 30 Juli 2013

Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , ,