Ayo, Selamatkan Burung Laut!

 

 

 

Tahukah Anda perbedaan burung laut dengan jenis burung lainnya? Selain lebih banyak hidup di laut, jenis ini termasuk jenis penerbang yang kuat. Bayangkan saja, mereka harus terbang melawan angina dan mencari makan di antara debur ombak. Saat berbiak, mereka akan mencari daratan untuk membuat sarang, mengerami telur hingga menjaga anaknya hingga cukup dewasa mencari makan sendiri.

Kemampuan burung laut hidup di air, sejatinya didukung adanya kelenjar minyak yang berada di dekat ekor agar bulunya tahan air. Namun ada beberapa jenis yang tidak memiliki kelenjar minyak seperti jenis Pecuk, sehingga saat bulunya basah ia harus mengeringkan dengan melebarkan sayap. Burung laut juga memiliki kemampuan membuang garam dan air yang berlebihan yang ada di tubuhnya. Bisa melalui penguapan melalui pernafasan, kelenjar garam yang ada di tubuh, melalui kulit, ekskresi, atau metabolisme.

Beberapa jenis burung laut memiliki kelenjar garam yang berada di atas mata. Kelebihan kelarutan garam akan mengalir ke rongga hidung kemudian keluar melalui lubang hidung dan akhirnya garam menetes dari ujung paruh. Burung laut juga memiliki kemampuan dalam menyeimbangkan suhu tubuh, saat di air dingin, ia akan memaksimalkan lemak tubuhnya agar tetap hangat. Ketika mendinginkan tubuh, mereka akan membuka mulut dan sayap, lalu menutupi kaki dengan tubuhnya.

 

 

Dara-laut kecil bertengger di batang pisang. Foto: Fransisca Noni
Dara-laut kecil bertengger di batang pisang. Foto: Fransisca Noni

 

 

Beberapa jenis burung penyelam, memiliki adaptasi dengan memiliki volume darah lebih besar dan volume pernafasan yang lebih rendah karena daya apung udara jauh melebihi jaringan atau darah. Jenis Albatros, Petrel, Penggunting-laut, dan Petrel-badai memiliki minyak perut yang merupakan residu dari makanan yang dihasilkan dari proses pencernaan mangsa seperti krill, cumi-cumi, jenis copepoda dan ikan. Fungsi dari minyak perut ini simpanan energi sebagai cadangan makanan dan digunakan oleh Petrel dan Albatros saat ada predator di sarang dengan memuntahkan minyak ini.

Di dunia burung, pembagian jenis burung laut dapat berbeda. Bryan Nelson dalam bukunya “Seabird: Their Biology and Ecology” (1980) menulis bahwa jenis burung laut dibagi empat bangsa (Sphenisciformes, Procellariiformes, Pelecaniformes, and Lariformes) dengan 15 suku. Antara lain (Spheniscidae (jenis Pinguin), Diomedeidae (Albatros), Procellariidae (Petrel dan Penggunting-laut), Hydrobatidae (Petrel-badai), Pelecanoididae (Diving-petrels), Phaethontidae (Buntut-sate), Pelecanidae (Undan), Sulidae (Gannets dan Angsa-batu), Phlacrocoracidae (Pecuk-padi), Anhingidae (Pecuk-ular), Fregatidae (Cikalang), Stercorariidae (Skua, Camar-kejar), Lariidae (Camar, Dara-laut), Rynchopidae (Skimmers), Alcidae (Auks, Guillemots, Puffins). Secara keseluruhan, di dunia terdapat 287 jenis burung laut dan 59 jenis diantaranya dapat teramati di perairan Indonesia (Sukmantoro dkk, 2007; Iqbal & Albayquni, 2016).

 

 

Sampah di Teluk Jakarta. Foto: Fransisca Noni
Sampah di Teluk Jakarta. Foto: Fransisca Noni

 

 

Burung laut yang berada di puncak rantai makanan, mendapatkan ancaman yang besar saat mereka mencari makan. Lalu, bagaimana bila perairan tempat mereka mencari makan tercemar?

Di Teluk Jakarta, pencemaran berasal dari sampah domestik dan industri. Teluk Jakarta menerima sampah dari luar pulau melalui 13 sungai. Sampah yang berasal dari pemukiman di daratan pulau juga masih banyak yang dibuang secara langsung ke laut, lalu terbawa arus dan akhirnya kembali terdampar di pantai, seperti yang terjadi di pantai Pulau Bidadari dan Pulau Anyer (Sahwan, 2004).

Pada 2015 tercatat bahwa Kepulauan Seribu terdapat 35,1 ton sampah/hari yang terdiri dari sampah organik dan non-organik, seperti botol plastik, tas plastik, sandal, styrofoam, batang pisang, dan Enceng gondok. Sampah yang ada di laut terkadang tidak sengaja dimakan, karena burung laut mengira sampah yang mengambang itu ikan.

 

 

Dara-laut Aleutian bertengger di sandal. Foto: Khaleb Yordan
Dara-laut Aleutian bertengger di sandal. Foto: Khaleb Yordan

 

 

Menurut Wilcox dkk (2015), sekitar 59% jenis burung laut dalam studi yang dilaporkan di literatur antara 1962 dan 2012 telah mencerna plastik rata-rata 29% individu, ada plastik di ususnya. Haryati dkk (2015) menemukan bahwa jenis pencemar cadmium and mercury sangat tinggi di Teluk Jakarta. Ikan dan satwa liar lainnya yang terkontaminasi jenis pencemar ini termasuk burung laut yang memakan ikan, dapat mempengaruhi perkembangan sistem saraf, embrio yang gagal berkembang, bahkan burung menjadi steril.

Selain ancaman pencemaran yang mempengaruhi perkembangan burung laut, khususnya Cikalang Christmas (Fregata andrewsi) dan Dara-laut kecil (Sterna albifrons) tim Burung Laut Indonesia mengidentifikasi bahwa sejak 2011 hingga 2016 kedua jenis burung tersebut kerap terjerat alat pancing yang menyebabkan kematian.

Selain itu, terjadi pula penangkapan tidak sengaja oleh nelayan, penangkapan dengan ikan yang telah diberi racun, bahkan perburuan dengan senapan. Sedangkan pada satu pulau di Laut Banda, nelayan lokal masih mengambil telur burung laut untuk dimakan (de Jong, 2005).

 

 

Individu muda Cikalang Christmas terbang membawa membawa sampah sedotan plastik. Foto: Ari Hidayat
Individu muda Cikalang Christmas terbang membawa membawa sampah sedotan plastik. Foto: Ari Hidayat

 

 

Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk menolong burung laut? Kurangi penggunaan plastik dalam bentuk apapun dan jangan membuang sampah sembarangan. Bila Anda hobi bertualang, fotografi, dan pengamatan burung, mari berpartisipasi dengan mengirim foto burung laut yang Anda temui ke akun Facebook “Seabird Indonesia (Burung Laut Indonesia)”.

Cantumkanlah informasi berupa jumlah burung, tanggal dan lokasi tempat Anda menemukan burung laut. Perhatian Anda terhadap burung laut dapat membantu keselamatan mereka di masa depan!

 

Fransisca Noni

Pegiat lingkungan dan pemerhati burung laut Indonesia (email:[email protected]yahoo.com)

 

 

 

Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , ,