,

Solusi Pertahanan Banjir Jakarta

Awal bulan di tahun 2013 sepertinya tidak bersahabat khususnya bagi warga Jakarta. Masih lekat di ingatan kita bagaimana eventCar Free Nightsaat menyambut tahun baru di bundaran HI seketika saja merubah jalan protokol ibukota menjadi lautan manusia. Namun kini bundaran HI benar-benar menjadi “lautan” dalam arti sesungguhnya.

banjir

Banjir sepertinya menjadikan Jakarta sebagai destinasi persinggahan tiap tahunnya, meski tidak separah tahun 2007 lalu, tetapi banjir awal tahun ini juga melumpuhkan kantor pemerintahan & perdagangan. Istana Negara, gedung DPR hingga kawasan niaga tidak absen dari limpasan air, yang berati menghambat aktivitas pemerintahan & perekonomian negara yang berpusat di ibukota. Dalam seketika, status Tanggap Darurat Jakarta pun diberlakukan.

Banjir kali ini mengingatkan saya dengan sistem pertahanan banjir negara Belanda. Pada 1953 terjadi terjangan badai di laut utara, Sebuah bencana nasional yang menewaskan 1835 orang hanya dalam waktu satu malam. Untuk mencegah terulangnya dilaksanakanlah project ambisius, sistem pertahanan banjir sepanjang Laut Utara,Deltaworks

Saya sebut ambisius, karena proyek ini menghabiskan cukup banyak dana dalam risetnya, sebagai bayangan budgeting-nya, project ini merupakan konstruksi bendungan paling rumit yang terdiri dari 13 bendungan raksasa sepanjang laut utara danmerupakan salah satu struktur bergerak terbesar di dunia menyaingi teleskop Green Bank di Amerika Serikat dan ekskavator Bagger 288 di Jerman (Wikipedia).Bendungan yang pengerjannya memakan waktu 50 tahun ini masuk ke dalam7 wonders of the modern world

banjir 2

Lalu apakah Jakartaperlu mencotoh apa yang dilakukan Belanda? Menurut saya tidak. Karena latar belakang masalah yang dimiliki kedua tempat tersebut berbeda. Belanda yang lebih dari 60% daerahnya terletak dibawah laut memiliki kecemasan yang lebih terhadap kondisi ini, bahkan ada sebuah kementerian khusus yang bertanggungjawab dalam perlindungan terhadap banjir.

Sementara untuk Jakarta, pola tingkah manusia turut andil menjadi penyebab banjir Jakarta. Jika dilihat secara jeli, curah hujan pada periode Januari 2013 tidak sampai setengahnya curah hujansaat banjir Jakarta tahun 2007 lalu, tatapi dampaknya hampir menyentuh keadaan yang sama. ini berati faktor non alam seperti budaya membuang sampah sembarangan, pembangunan properti di hulu sungai dan penataan ruang yang tidak proporsional turut andil dalam musibah ini.

Pemerintahan DKI Jakarta sebenarnya sudah merencanakan terobosan baru yang tidak kalah prestisius dengan deltaworks, yakni project bernilai Rp 16 triliun,Deep Tunnel. Tetapi konsep ini bukanlah kunci dalam menyelesaikan permasalahan, karena pada dasarnyadeep tunel hanya menambah kapasitas limpasan air yang tidak tertampung untuk diperingan dengan membuatnya dibawah tanah. Limpasan air tetap akan mengalir ke drainase atau sungai secara langsung. Permasalahannya banyaknya volume limpasan air tidak sebanding dengan kapasitas drainase atau sungai yang terus mengaalami pedangkalan.

Oleh karena itu, cara yang paling efektif adalah memaksimalkan resapan air dengan cara memperbanyak Ruang Terbuka Hijau (RTH). Jakarta sendiri hanya memiliki RTH publik9,8%angka yang jauh seperti yang diamanatkan UU No.26 Tahun 2007, 30% (20% RTH publik 10% RTH privat). Celakanya dari angka 9,8% tersebut banyak RTH yang tidak maksimal fungsinya seperti taman kota didalam komplek perumahan yang dipakai pedagang untuk berjualan, menyebabkan tanahnya mati karena sering terinjak-injak sehingga air tidak dapat meresap lalu melimpas, lalu perumahan-perumahan yang tidak menyediakan perkarangan bahkan bangunan pusat perbelanjaan, perkantoran, atau perhotelan yang seharusnya menyisihkan luas areanya untuk RTH privat malah menghabiskannya untukbasementatau lapangan parkir.

Jakarta tidak perlu mengikuti belanda dengan membuat megaproject untuk mengatasi masalah banjir, karna solusi yang simple dan efektif dengan menambah RTH lebih relevan dengan kondisi Jakarta saat ini. Untuk mewujudkan RTH 30% Pemda harus berani melakukan pembelian & pembebasan lahan, memaksimalkan jalur hijau seperti tol & jalur kereta api serta merevitalisasi taman-taman kota. Satu-satunya hal yang perlu di contoh dari Belanda adalah keambisiusan mereka dalam mencapai tujuan! (rez)

 

 

NB: Tulisan ini pernah dipublikasikan dalam blog pribadi penulis

Artikel yang diterbitkan oleh