Pesona Teluk di Balik Bukit Cadas

Share
Banyuwangi- Berjarak sekitar 90 kilometer di sebelah selatan Kota Banyuwangi, dibalik untaian bukit pesisir Taman Nasional Meru Betiri, pantai itu berada. Diapit dua bukit berdinding cadas yang menjorok ke laut, pantai ini membentuk teluk kecil nan indah. Bisik deburan ombak ditambah semilir angin laut selatan membuat pelancong betah berlama-lama.


Kombinasi hamparan pasir putih dengan gradasi air laut kehijauan kian mengukuhkan pesonanya ibarat surga tersembunyi. “Air pantainya hijau karena dasar lautnya karang berpasir putih. Makanya disebut Teluk Hijau,” kata Amir, pemandu wisata di pantai tersebut, Ahad (30/11). Teluk Hijau, demikian masyarakat menamakan pantai itu.

Butuh waktu tempuh 2,5 jam dari kota Banyuwangi ke Teluk Hijau. Masuk administrasi Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, perjalanan ke Teluk Hijau menawarkan sedikit sensasi adventure. Tujuh kilometer sebelum tiba di pantai Rajekwesi, titik transit sebelum ke Teluk Hijau, jalanan rusak akan menggoyang tubuh. Maklum, untuk menuju pantai harus melewati kawasan perkebunan karet dan cokelat milik PTPN XII.

Bagi wisatawan disarankan menggunakan mobil station wagon atau berpenggerak empat roda. Signal telepon seluler tiba-tiba melemah ketika masuk kawasan perkebunan hingga Taman Nasional. “Saya senang di sini karena tidak ada signal telepon. Tenang, tidak diganggu orang yang telepon tiap hari,” kata Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas disela-sela berkunjung ke Teluk Hijau.  

Dari titik transit di Rajekwesi, ada dua alternatif menuju Teluk Hijau. Menggunakan jasa perahu nelayan bertarif Rp 35 ribu per orang pergi pulang. Opsi lain meneruskan perjalan darat dengan resiko kontur jalan menanjak yang rusak berat. Teluk Hijau dan Pantai Rajekwesi sejatinya hanya dipisahkan bukit berdinding cadas. Rombongan Bupati Anas memilih menggunakan jasa perahu motor tempel untuk menuju Teluk Hijau. Memecah hempasan gelombang laut selatan memacu adrenalin.

Lima belas menit selepas Pantai Rajekwesi dengan memutar bukit, surga tersembunyi itu tersingkap: Teluk Hijau. Ombaknya relatif sedang dengan air pantai kehijauan. Boleh dikata Teluk Hijau tidak tergarap optimal. Teluk Hijau belum dilengkapi infrastruktur pendukung semacam gazebo atau kursi malas untuk pengunjung.

Kepada kelompok Masyarakat Ekowisata Rajekwesi Model Desa Konservasi, Bupati Anas memita supaya disediakan infrastruktur tambahan tersebut. “Pemda tidak menarik retribusi. Jadi penghasilan dari turis yang kesini bisa untuk membeli kursi santai. Dari sewa-sewa kursi santai ini hasilnya kan tetap masuk ke masyarakat,” ujar Bupati Anas. 

Dibalik Teluk Hijau, wisatawan bisa menyusuri jalan setapak ke pantai batu karang. Batu karang bukan pantai berpasir layaknya Rajekwesi atau Teluk Hijau. Disepanjang garis pantainya hanya terhampar bebatuan cadas dengan air pantai jernih kehijauan. Bila wisatawan belum puas menikmati gugusan pantai di wilayah itu, disarankan menambah tujuan ke pantai Poncomoyo, 40 menit memecah gelombang laut selatan dari Teluk Hijau.

Pemandu biasanya menawarkan jasa paket susur pantai Teluk Hijau, Poncomoyo ditambah snorkeling sebesar Rp 125 ribu per orang. Di Rajekwesi, masyarakat menyediakan homestay bertarif kisaran Rp 100 ribu per orang dengan kompensasi makan 3 kali sehari. Adapun karcis masuk ke area Taman Nasional Meru Betiri bertarif Rp 125 ribu per orang untuk turis asing, Rp 5 ribu bagi turis domestik, dan roda empat ditarik Rp 10 ribu. Retribusi ditarik oleh pengelola Taman Nasional Meru Betiri .

Selain kendaraan pribadi, wisatawan bisa menggunakan angkutan umum bus Damri dari terminal Jajag ke Rajekwesi. Pelancong juga bisa memakai jasa paket travel wisata yang makin banyak di Banyuwangi. Paket travel ini biasanya langsung ke beberapa tujuan seperti Gunung Ijen, Baluran, Pulau Merah, Teluk Hijau, Plengkung dan destinasi lain. “Tiap orang tarifnya Rp 250 ribu,” kata Amir.  

Tahun anggaran 2015, Bupati Anas merencanakan untuk memperbaiki infrastruktur jalan dari Desa Kandangan hingga Rajekwesi. Jika kondisinya mulus, ia yakin kian banyak wisatawan berminat berkunjung ke gugusan pantai indah dibalik untaian bukit Meru Betiri tersebut. Bupati hanya meminta agar masyarakat ikut menjaga kebersihan pantai. “Saya masih lihat banyak sampah. Saya minta agar disediakan banyak tempat sampah dan masyarakat ikut menjaga kebersihan,” ujarnya.

Kepala Dinas PU Jasa Marga dan Cipta Karya Banyuwangi, Mujiono, mengaku telah menganggarkan duit Rp 5 miliar dalam APBD 2015 buat mengaspal jalan sepanjang 7 kilometer itu. Ia berharap ada sharing dana dari Taman Nasional dan PTPN XII. “Kalau ada bantuan dana, minimal kami menghemat Rp 2 miliar. Ini kan juga demi masyarakat, jadi saya harap PTPN XII dan Taman Nasional ikut mengucurkan dana,” ujar Mujiono.

Share

Komentar

komentar

Latest News
20638354_10154679732576811_1352153978649520921_n

Green Energy for Asian Games 2018

August 10, 2017
Share Tweet PENINJAUAN LAPANGAN DAN TEMU MEDIA PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA DENGAN KAPASITAS 2 MW UNTUK MENUNJANG KEGIATAN GREEN ASIAN GAMES DI STADION JAKABARING PALEMBANG Bukan hanya judul tulisan Read More
1382187_615954365113939_270388898_n

Kampus teknik pun peduli peduli perubahan iklim

August 2, 2017
Share Tweet Dampak Perubahan Iklim Perubahan  iklim  global  dewasa  ini  sudah  mulai  kita  rasakan  dampaknya. Salah  satu  penyebabnya  adalah  meningkatnya  konsentrasi  gas  rumah  kaca di atmosfer. CO2  merupakan salah satu Read More
Bull shark. Foto: Global FinPrint Project

Pemangsa yang Menjadi Mangsa: Kondisi Hiu dan Pari di Perairan Indo-Pasifik

May 27, 2017
Share Tweet     Hiu dan pari merupakan jenis ikan dalam kelas Chondrichthyes (bertulang rawan). Termasuk di dalamnya Chimaera yang lebih dikenal sebagai Ghost Shark. Kelas ini memiliki keanekaragaman yang Read More

Sosialisasi Program Mitigasi Berbasis Lahan dan Penyusunan Program Unggulan yang Berkelanjutan

March 17, 2017
Share Tweet Sosialisasi program mitigasi berbasis lahan dan penyusunan program unggulan di lokasi program dengan melibatkan lima desa. Setidaknya itu yang dilakukan oleh Yayasan Palung pada (11/3/2017), pekan lalu, di Read More