Kurangi Risiko Bencana dan Perubahan Iklim, Petani pun Unjuk Kebolehan

Share

Petani di Padang Pariaman, Sumatera Barat bangga dengan kemampuan mereka mengurangi risiko bencana dan perubahan iklim. Mereka menggelar pertemuan para pihak untuk memamerkan kemampuannya.

Sekumpulan ibu-ibu duduk di atas panggung menganyam baki dari lidi kelapa.  Mereka telihat asik sementara ruangan aula kantor Bupati Padang Pariaman penuh sesak dengan pengunjung pada 25 Februari 2015.

Di sudut lain, terlihat sekelompok ibu turut memamerkan hasil kerajinan tangan yang mereka buat sendiri dari limbah rumah tangga.  Vas bunga, sendal, tas dan kerajinan lainnya diolah dari sampah plastik yang menurut mereka banyak bertebaran di sekitar lingkungannya.

Sementara itu, di sisi timur, seorang ibu juga turut mendemonstrasikan kebolehannya menyambung tanaman durian.  Batang bawah durian berasal dari pohon induk yang akar dan batangnya kuat, sementara batang atas berasal dari durian berbuah enak.

Sisi lain dari pameran itu juga menampilkan produk pangan organik yag terdiri dari sayuran serta beragam tanaman tua untuk ditanami guna mencegah longsor.

Direktur Yayasan FIELD Indonesia, Widyastama Cahyana mengatakan pameran ini sengaja dilakukan sebagai bagian dari komunikasi hasil-hasil pembelajaran para petani. Para petani sudah sejak lima tahun terakhir belajar bagaimana melakukan pengurangan risiko bencana dan perubahan iklim.

“Mereka juga sampai menghasilkan varietas padi yang tahan dengan suhu dan salinitas tinggi,” ujarnya.

Para petani belajar dalam wadah sekolah lapangan, lanjut Cahyana, dimana forum pertemuan rutin dilakukan untuk saling berbagi pengalaman serta melakukan kajian terhadap risiko bencana dan perubahan iklim.  Hasil-hasil kajian kemudian diterapkan di lapangan, terutama di lahan-lahan pertanian.

Sumatera Barat yang diguncang gempa berkekuatan 7,6 Skala Richter pada 30 September 2009 membuat sebagian besar masyarakat Kabupaten Padang Pariaman mengalami trauma.  “Kami mulai bekerja dengan mereka setahun setelah kejadian itu,” kata Cahyana.

Hingga saat ini, para petani sudah terlibat dalam berbagai tema sekolah lapangan.  Menurut Cahyana, aktivitas bersama petani dimulai dengan kajian kerentanan partisipatif. Kajian ini memfasilitasi petani untuk memahami keadaan lingkungannya sekaligus membuat rencana antisipasi risiko kalau terjadi bencana.

Cahyana memperlihatkan peta kajian kerentanan yang dibuat petani.  Dalam peta tersebut, petani sudah menggambarkan lokasi-lokasi rentan ketika terjadi bencana, termasuk sekolah, daerah pinggirn sungai, ladang dan lokasi-lokasi lainnya.

“Sejauh ini, para petani dari 26 nagari dari total 63 nagari di Kabupaten Padang Pariaman telah terlibat dalam kegiatan ini.  Umumnya adalah kaum perempuan,” katanya.

Pengurus Persatuan Petani Pemandu dan Masyarakat Tangguh Bencana dan Perubahan Iklim (P3MTBPI) Padang Pariaman, Indra Medi mengatakan dari kajian tersebut petani kemudian mengembangkan ide sekolah lapangan lanjutan.

Menurut Indra, terdapat beberapa tema sekolah lapangan lanjutan, diantaranya sekolah lapangan lumbung pangan hidup.  Sekolah lapangan ini memberi pembelajaran kepada petani memanfaatkan lahan sekitar rumah untuk ditanami berbagai produk makanan seperti ubi, talas, jagung, pisang, sayuran dan lainnya.

“Ini berguna ketika terjadi bencana smentara bantua dari pihak luar belum datang.  Tak ada lahan kosong, petani bisa menggunakan polybag.  Kalaupun tidak ada bencana, tanaman bisa dikonsumsi harian,” kata Indra.

Sekolah lapangan padi rendah emisi metan, merupakan sekolah lapangan yang memberikan pembelajaran pada petani untuk bertanam padi dengan meminimalisir emisi gas metana.  “Padi ditanam dengan pola tanpa genangan air serta memanfaatkan kompos serta pupuk organik,” katanya.

Selain itu, lanjut Indra, petani juga terlibat dalam sekolah lapangan pengurangan risiko bencana.  Sekolah lapangan ini menghasilkan kajian risiko serta langkah antisipasi ketika bencana terjadi.  Selain itu, sekolah lapangan ini juga mendorong terbentuknya jaringan petani yang tangguh dalam menghadapi bencana.

“Para pihak tentunya harus bekerja sama dengan masyarakat untuk meminimalisir risiko itu.  Karena itu, petani mengadakan lokakarya  rutin,” imbuhnya.

Bupati Padang Pariaman, Ali Mukhni yang turut hadir dalam lokakarya itu menyampaikan Pemerintah Daerah Padang pariaman berkomitmen bekerja sama dengan petani.

“Kami sudah menganggarkan dalam APBD agar kegiatan-kegiatan yang mendukung ketangguhan petani tetap dilanjutkan,” kata Bupati.

Share

Komentar

komentar

Latest News
20638354_10154679732576811_1352153978649520921_n

Green Energy for Asian Games 2018

August 10, 2017
Share Tweet PENINJAUAN LAPANGAN DAN TEMU MEDIA PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA DENGAN KAPASITAS 2 MW UNTUK MENUNJANG KEGIATAN GREEN ASIAN GAMES DI STADION JAKABARING PALEMBANG Bukan hanya judul tulisan Read More
1382187_615954365113939_270388898_n

Kampus teknik pun peduli peduli perubahan iklim

August 2, 2017
Share Tweet Dampak Perubahan Iklim Perubahan  iklim  global  dewasa  ini  sudah  mulai  kita  rasakan  dampaknya. Salah  satu  penyebabnya  adalah  meningkatnya  konsentrasi  gas  rumah  kaca di atmosfer. CO2  merupakan salah satu Read More
Bull shark. Foto: Global FinPrint Project

Pemangsa yang Menjadi Mangsa: Kondisi Hiu dan Pari di Perairan Indo-Pasifik

May 27, 2017
Share Tweet     Hiu dan pari merupakan jenis ikan dalam kelas Chondrichthyes (bertulang rawan). Termasuk di dalamnya Chimaera yang lebih dikenal sebagai Ghost Shark. Kelas ini memiliki keanekaragaman yang Read More

Sosialisasi Program Mitigasi Berbasis Lahan dan Penyusunan Program Unggulan yang Berkelanjutan

March 17, 2017
Share Tweet Sosialisasi program mitigasi berbasis lahan dan penyusunan program unggulan di lokasi program dengan melibatkan lima desa. Setidaknya itu yang dilakukan oleh Yayasan Palung pada (11/3/2017), pekan lalu, di Read More